close
SUMENEP

Keberadaan Industri Rokok Lokal Madura Manfaatnya Dirasakan Masyarakat

IMG-20260518-WA0037


SUMENEP, Kompasmadura.com – Keberadaan industri rokok lokal di Madura, khususnya di Kabupaten Sumenep, semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Selain mampu menjaga stabilitas harga tembakau, industri ini juga dinilai berhasil meningkatkan serapan hasil panen petani serta membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.


Dalam tiga tahun terakhir, kondisi tersebut mulai dirasakan secara nyata oleh petani tembakau di berbagai wilayah. Pada musim panen 2024 lalu, harga tembakau di salah satu gudang lokal di Sumenep berkisar antara Rp55 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram, tergantung kualitas tembakau.

Tak hanya harga yang relatif stabil, daya serap hasil panen juga meningkat signifikan. Salah satu gudang rokok lokal di Sumenep tercatat menyerap sekitar 930 ton tembakau atau setara lebih dari 19.400 bal selama musim panen tahun lalu.

Salah seorang petani tembakau asala kecamatan Guluk-guluk, ‎Imam (48) mengatakan bahwa kondisi tersebut sangat berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Menurutnya, harga tembakau dulu sering mengalami penurunan drastis hingga berada di bawah Rp30 ribu per kilogram.

“Kondisi itu tentu sangat merugikan petani. Sekarang, sejak banyak pabrik rokok lokal berdiri, harga lebih stabil dan serapan tembakau juga lebih tinggi,” ujarnya, Senin (18/05/2026).


Ia menilai keberadaan pabrik rokok lokal di Sumenep dan wilayah Madura memberikan rasa aman bagi petani untuk kembali menanam tembakau karena hasil panen mereka memiliki kepastian pasar.

Hal senada disampaikan Hazbul (38), petani asal Kecamatan Lenteng. Ia mengaku kini lebih tenang dalam mengelola lahan tembakaunya karena hampir seluruh hasil panen petani dapat terserap oleh industri lokal.

“Dalam beberapa tahun terakhir, hampir bisa dipastikan tembakau petani terjual semua. Ini sangat membantu kami,” katanya.

Selain berdampak pada sektor pertanian, industri rokok lokal juga memberikan kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja. Banyak warga yang kini bekerja di sektor linting rokok, pengemasan, hingga distribusi.

Senada diungkapkan ‎Rina (35), warga Kecamatan Lenteng yang bekerja sebagai buruh linting rokok, mengaku kehadiran industri tersebut membantu meningkatkan perekonomian keluarganya.

“Dulu saya hanya ibu rumah tangga tanpa penghasilan. Sekarang saya bisa bekerja dan membantu kebutuhan keluarga,” tuturnya.

‎Keberadaan industri rokok lokal pun dinilai tidak hanya menjadi penopang ekonomi petani tembakau, tetapi juga membuka peluang usaha dan lapangan kerja baru bagi masyarakat di Kabupaten Sumenep dan Madura secara umum.(Rus/Nin)