SAMPANG

Pertahankan Warisan Leluhur, Desain Batik Tulis Khas Sampang

SAMPANG, Kompasmadura.com – Di Kabupaten Sampang, masih memiliki tradisi membuat batik yang dapat ditemukan di beberapa rumah. Salah satunya Double_K batik milik pasangan suami-istri Sri Krisna dan Kikana Rahman di Kelurahan Karang Delem Sampang.

Di usia 5 Tahun menyajikan kerajinan batik, Sri Krisna berhasil memiliki binaan. Diantaranya, pelajar SMAN 4 Sampang yang merupakan pendukung Kampung Kesenih Kelurahan Karang Delem. Dan tidak hanya para pelajar binaannya, melainkan Narapida dan mantan napi, disabilitas dan ibu rumah tangga.

Bertempat sederhana, setiap harinya ada 7-9 binaan yang bekerja. Mereka berbagi tugas, ada yang memalam, pewarnaan, desainer mitif batik dan pengcelupan.

“Tahun 2018 kami mulai menekuni usaha batik, dan tiga bulan kemudian Alhamdulillah kami sudah memiliki binaan,” kata Sri Krisna kepada kompasmadura.com

Perempuan berambut pendek itu menyampaikan, batik yang dibuat, biasanya menggunakan motif khas atau yang memiliki filosofi dari desainer motif batik itu sendiri. Artinya, tidak banyak bagi pengrajin batik membuat batik memiliki kelebihan dari sisi desainnya.

“Pemesan mayoritas Jawa Timur. Ada juga dari Bali dan Jakarta. Kami membuat sesuai desain permintaan costumer,” ujarnya sembari menunjukkan hasil produksinya.

Dia mengakui kesulitannya dikala mendesainer motif batik. Karena rata-rata motifnya berlatarbelakang pada sejarah yang mengandung filosofis. “Proses pembuatan masternya yang lama, bisa memakan waktu seminggu atau lebih,” ceritanya.

Untuk menjaga kualitas, Kris menggunakan bahan-bahan pilihan. “Harga tergantung kesulitan dari desainer motif batiknya. Terandah Rp 250 ribu, termahal Rp 5 jutaan. Pemasaran melalui online, ofline dan bermitra kerja dengan beberapa desainer dan boutique,” ujar Kris panggilan akrabnya.

Sebenarnya kata Kris, adanya pengrajin batik untuk mempertahankan dalam kerajinan yang mulai menyusut. “Makanya, supaya tetap bertahan, saya ini melibatkan binaan agar ada regenerasi kedepannya,” katanya.

Tidak menutup kemungkinan para wisatawan dapat membeli dan mencoba buat batik di sani. Sehingga, mereka memperoleh pengalaman yang berkesan. “Memiliki khas yang harus dilestarikan,” ungkap Kris. (Ful/Nin)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *