SUMENEP, kompasmadura.com – Pesantren Mathali’ul Anwar Sumenep merupakan satu diantara secuil pesantren yang ada di wilayah pulau Madura yang banyak melahirkan penulis besar yang nama-namanya sudah tak asing di pergaulan kancah kesusastraan Indonesia. misalnya, Ibnu Hadjar, Sjah A. Latief, Mahendra Cipta, Mahwi Air Tawar, M. Ridwan, Set Wahedi, dan Khairi Esa Anwar.
Hal tersebut diakui oleh Ibnu Hadjar, Menurutnya meski baru bisa dihitung dengan jari, tapi eksistensi santri Mathali’ul Anwar di ranah kesusastraan Indonesia, tak bisa disepelekan. Jika dalam perkembangannya, kelak lalu ada santri Mathali’ul Anwar yang sudah bisa berbicara di pentas sastra dunia, hal tersebut bukan mustahil, karena sudah tinggal satu langkah lagi.
Penulis Buku Negeri yang Terbakar, sekaligus Wakil Ketua PWI ini menegaskan, bila santri ada yang menjadi penulis buku, penyair, aktor atau sutradara teater dan film, ada pula yang merambah dunia jurnalisme, bukan fenomena baru.
“Karena cita-cita mereka sejak dipesantren sebetulnya memang ingin menjadi penulis kitab seperti Ibnu Katsir, Imam Nawawi al Bantani dan sederet penulis kitab klasik, tapi di konteks yang berbeda,”tandasnya,
dDitemui usai tadarus puisi di Kongres II Forum Komunikasi Mahasiswa Santri Mathali’ul Anwar Indoensia, yang diselenggarakan atas Kerjasama Kementrian Tenaga Kerja di Gedung Islamic Center Sumenep, Minggu Malam, (04/03/2018).
Hal senada juga disampaikan Sutradara sekaligus Penulis Lakon yang pernah diundang Majlis Sastra Asia tenggara, Sjah A. Lathief. Menurutnya, berbiaknya para penulis yang berlatar belakang pesantren, kemungkinan berangkat dari semangat kesenian yang sudah mengakar cukup lama di sana.
Karena pembacaan barzanji, pembacaan tasrif, Emriti maupun Alfiyiah yang dilagukan seperti pantun bersambut setiap saat itu, bagai jiwa dan badan bagi orang pesantren.
“Belum ada riset yang rigourus soal itu, tapi bukan mustahil santri juga dituntun oleh rasa haus alami akan ilmu-ilmu yang secara spesifik tidak di dapatkannya di pesantren,”ungkap Pendiri Teater Ababil Matahliul Anwar ini.
Dia juga menambahkan, jika penulis dan pegiat kesenian santri di Pesantren di Mathaliul Anwar Sumenep sudah terentang mulai genersi tahun 1980-an, 1990-an hingga tahun 2000. [die/Nin]






