close
SAMPANG

Usai Diimunisasi Siswa Sakit Tak Terima,  Orang tua siswa Melaporkan Ke Polisi

IMG_20171120_205800
Marsuji (Pakai Kaos Ungu) Orang Tua Nur Latifah memberikan keterangan kepada media usai melaporkan kejadian tersebut.

SAMPANG,  kompasmadura.com – Selasa (14/111/2017) waktu setempat, di Sekolah Dasar Negeri (SDN)  Gunung Sekar 2 Sampang dilakukan Imunisasi terhadap siswa-siswinya. Pemberian Imunisasi tersebut membuat naas terhadap Nur Latifah.

Namun gadis berusia 7 Tahun itu mengalami sakit bahkan kejang-kejang sehari setelah di Imunisasi oleh pihak terkait.  Marsuji, 32, terkejut melihat putrinya sakit demikian usai di Imunisasi.

Akhirnya,  Rabu (15/11/2017), Marjudi membawa putri ke Puskesmas Kemoning.  Namun setiba disana (Pukesmas), pihak Pukesmas tidak mampu mengobatinya.

Diwaktu yang sama,  Nur Latifah kembali dilarikan ke Dokter Budi.  Tapi,  bukanlah penanganan yang bagus diterima keluarga Marsuji, namun Dokter Budi menyarankan putrinya segera dilarikan ke RSUD Sampang.

Hasil dari pemeriksaannya,  korban mengalami gizi buruk. Hingga berita ini dikeluarkan,  Nur Latifah masih di rawat RSUD setempat.

Pasca kejadian,  Marsuji menduga pemberian Imunisasi tersebut malpraktik dan dipaksakan. Dia menceritakan,  lengan tangan ditemukan dua lubang bekas suntikan yang mengakibatkan putri sakit.

Praduga tersebut,  akhirnya Marsuji melaporkan kejadian itu ke Perlindungam Perempuan dan Anak (PPA)  Polres Sampang,  20/11/2017). Di ruang Kanit PPA, Pria asal Tambelangan Sampang ditemui tim penyidik PPA Polres Sampang.

“Kami kesini melaporkan pasca kejadian anak saya mengakibatkan sakit usai diberi Imunisasi,” katanya kepada media.

“Alhamdulillah, laporan itu diterima,” sambungnya. Namun, dari tim penyidik PPA Polres Sampang, pihaknya disarankan membuat laporan secara tertulis.

“Sementara ini,  kami hanya lapor secara lisan.  Nanti kami akan membuat laporan yang disarankan tim penyidik,” ujar Marsuji.

Terpisah,  Kapala Dinas Kesehatan (Dinkes)  Sampang Firman Pria Abadi menepis jika terjadi malpraktek maupun memaksakan pemberian imunisasi tersebut.  Menurut dia, program tersebut menjadi wajib atau diajurkan diberikan kepada anak.

“Yang mala praktik itu,  Dokter Penyakit Dalam kemudian menangani Kasus lain (Bedeh misalnya)  ya itu yaang disebut malpraktek, ” kata saat dikonfirmasi melalui sambungan selulernya.

Dirinya mengakui ada kasus tersebut.  Yang perlu diketahui,  kata Firman,  anak tersebut memang mengalami gizi buruk sebelumnya. “Berat badannya saja hanya 17 kilogram, ” ujarnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penulis : Syaiful

Editor   : Nindy

 

 

Tags : Pelaporan