Hari Kartini diperingati setiap tahunnya oleh negara kita pada tanggal 21 April. Kebiasaan yang dilakukan dalam memperingatinya adalah melakukan kegiatan-kegiatan massal (karnaval, lomba-lomba busana Kartini, seminar tentang peran wanita, dan lain-lain) yang sepintas lalu ingin menunjukkan peran wanita dari berbagai profesi, dimana tersirat di dalamnya bahwa “wanita mampu setara dengan lelaki”.
Sungguh merupakan pemaknaan yang sempit, karena disamping pesan yang ingin disampaikan adalah keinginan kesetaraan, ada hal paradoks lain yang tersirat bahwa selama ini wanita berada dalam ketertindasan atau lebih halus bisa dikatakan bahwa wanita mengalami ketidakadilan yang terus menerus.
Terlepas dari semua itu, sejatinya wanita adalah mahluk multitalenta yang dalam kehidupan majemuk menjadi pelaku dan pelengkap tatanan. Berbagai organisasi kemasyarakatan tidak ada yang tanpa wanita, namun sebaliknya, ada banyak organisasi yang anggotanya hanya wanita. Ruang lingkup peran wanita sedemikian luas, baik dalam lingkup terkecil yaitu diri sendiri dan keluarga, maupun dalam lingkup luas seperti menjadi penentu kebijakan yang memenuhi hajat hidup orang banyak, menjadi pemilik usaha yang mempekerjakan banyak orang dan lain-lain. Kenyataan ini membuat wanita menjadi sosok yang mempunyai kekuatan tersendiri di berbagai tatanan kehidupan di dunia ini.
Saya yang kebetulan dianugerahi Allah SWT kesempatan untuk mengenyam pendidikan dokter, Hari Kartini tahun ini adalah tahun spesial karena bersamaan dengan Pandemi Covid-19. Sebagai tenaga medis wanita, kami (saya sebut kami, karena dalam melakukan pekerjaan selalu berkolaborasi) mempunyai tugas khusus yang sangat beresiko, baik berhadapan langsung dengan orang beresiko (kategori dari ODR/OTG, ODP, PDP bahkan mungkin kasus terkonfirmasi) maupun berjibaku dengan pemenuhan APD yang sangat langka adanya. Ini adalah ujian berat sekaligus ladang amal bagi kami sebagai bekal di kehidupan kami selanjutnya. Oleh karenanya, yang penting dilakukan sebelum menolong orang lain, maka kami harus melindungi diri sendiri dengan menggunakan APD standart di masing-masing level resiko, sehingga kami bisa menolong banyak orang dengan maksimal.
Dan selanjutnya, setelah menunaikan tugas di instistusi kesehatan, tak lupa bahwa seorang tenaga medis juga punya keluarga di rumah yang menunggu, kami harus pastikan bahwa kami bisa berkumpul kembali di rumah dalam kondisi aman dan nyaman, tanpa ada kekuatiran menularkan penyakit yang kami bawa dari kantor. Untuk itu budaya berPHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat yang salah satunya adalah kebiasaan cuci tangan pakai sabun, makan makanan dengan gizi seimbang, dan lain-lain), harus senantiasa mengakar dalam diri dan keluarga kami, agar senantiasa sehat sejahtera.
Selain itu, peran wanita dalam bermasyarakat tidaklah harus surut karena Pandemi Covid-19 ini. Saya kebetulan menjadi bagian dari IDI (Ikatan Dokter Indonesia) Cabang Sumenep, turut berkontribusi dalam penggalangan donasi pengadaan Alat Pelindung Diri (APD) untuk disalurkan pada 43 fasilitas kesehatan di Kabupaten Sumenep, masyarakat serta teman sejawat. Sedangkan di organisasi lainnya, saya kebetulan juga menjadi bagian dalam GOW (Gabungan Organisasi Wanita) Sumenep, turut bersama-sama berkontribusi memberikan sembako dan masker pada para perempuan tangguh (pedagang-pedagang kecil di pasar) yang terkena dampak Pandemi Covid-19, dengan tetap memegang teguh pencegahan Covid-19 yaitu pakai masker dan physical distancing (jaga jarak) selama berkegiatan.
Di sekitar saya, banyak sekali perempuan dengan perannya masing-masing, ada asisten rumah tangga yang begitu giat membantu saya untuk urusan dapur, ada guru ngaji dan wali kelas di sekolah anak saya yang berkontribusi penting dalam bekal ilmu anak saya, ada penjual cilok (kesukaan anak saya) yang kerap kali membuat bibir anak saya tersenyum, dan sejuta peran lain di sekitar kita yang selalu melakukan interaksi dengan kita. Selama kita bisa saling menghargai maka kita pasti akan senantiasa “berperan baik yang membaikkan”.
Harapan saya kepada seluruh perempuan yang ada di Indonesia, khususnya di Sumenep, mari kita jadikan Hari Kartini sebagai momentum berdaya-nya para perempuan, dengan segala kelebihan dan kelemahannya, kita harus mampu saling menjaga, saling melindungi, saling peduli dan saling memberi manfaat, bukan karena ingin setara dengan kaum lelaki, tapi makna yang lebih penting adalah menjadi sepenuh manfaat untuk diri dan sekitar kita. Mari, kita menjadi perempuan yang senantiasa “berperan baik dimanapun dan kapanpun”.
Happy Kartini’s Day
Best Regard
Rifmi Utami, dr., M



