SUMENEP, Kompasmadura.com – Kasus kematian yang disebabkan oleh wabah penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), atau yang dikenal sebagai Dengue Hemorrhavic Fever (DHF) yang dibawa oleh nyamuk, di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, semakin meningkat. Sabtu (09/02/2019).
Meski di kabupaten paling timur pulau madura itu gejala DHF telah memakan banyak korban, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumenep terus menerapkan beberapa penanggulangan untuk menyikapi perihal penyakit tersebut.
Namun dari hasil bermacam kasus DHF untuk tahun 2019, Dinkes Sumenep telah mendata bahwa kawasan kota menjadi yang lebih banyak menerima kasus DHF lebih dari 100 kasus.
“Tahun 2019 tercatat 292 kasus, dari kasus 292 itu, kasus terbanyak di kawasan kota, pabian, pamolokan, kalianget, jadi kota itu sampai 70 persen. Kemudian kematiannya ada pada tahun 2018 sebanyak dua kasus,” ungkap Kepala Dinas Kesahatan, A. Fatoni.
Pihaknya juga menerangkan, dalam periode 2018 lalu itu, terbanyak kasus DBD terletak di bulan januari sampai januari 2019.
“Di bulan januari terhitung 42 kasus, dan bulan februari 32 kasus, terakhir desember 33 kasus, serta tahun 2019 tercatat 120 kasus dari hasil laporan puskesmas maupun rumah sakit,” ujarnya. Sabtu (9/2/2019).
Sementara, dikawasan seluruh Kecamatan Kabupaten Sumenep terhitung dua kecamatan yang inten terbanyak dengan kasus DBD setiap tahunnya. “Kasus itu terjadi di kecamatan Pragaan dengan 15 kasus, dan manding 18 kasus, dan kota itu endemis setiap tahun,” lanjut Fatoni panggilan akrabnya, saat menerangkan kepada media.
Selain itu, untuk kasus bebas DHF di sumenep yakni meliputi kecamatan guluk-guluk, kepulauan giligenting, kecamatan ganding, serta kecamatan pasong-pasongan.
Lebih lanjut A. Fatoni juga menjelaskan bahwa, sampai saat ini kematian yang disebabkan oleh DHF hanya satu namun juga dicampur dengan penyakit lain.
“Untuk sekarang ini, pola DHF mengikuti musim panen jagung, dari pengamatan saya, kalau musim panen jagung itu sudah selesai, maka potensi penyakit DHF itu menurun,” jelas dia.
Oleh karena itu, Dinkes Sumenep menghimbau pola hidup sehat harus selalu ditingkatkan masyarakat. “Dari lingkungan, masyarakat sudah mulai mengerti kegiatan menguras dan menutup tandon-tandon air harus segera dilakukan,” terangnya.
Tidak hanya itu, Dinkes Sumenep sendiri telah menerapkan setiap Puskesmas, dokter dan perawatmya sudah dibekali ilmu dengan penanganan terkini demam berdarah.
“Setiap puskesmas saat ini juga sudah memiliki alat voging sendiri,jika kemudian ada kasus demam berdarah itu langsung bisa dilakukan fogging, tanpa harus melalui dinas kesehatan dulu, dan biayanya dari operasional kesehatan,” imbuhnya.
Seperti yang diketahui oleh media Kompasmadura.com dari hasil keterangan kepala Dinkes Sumenep, saat ini Dinkes telah menyiapkan Alat Kesehatan (Alkes) ditingkat puskesmas.
“Penularannya itu lewat sekolah, rumah, itu sudah kita lakukan sosialisasi bahkan sekarang itu tiap anak SD, SMP, maupun SMA itu jadi Juru Pemantau Jentik (Jumantik).Jadi kedepannya, insyaallah gejala DBD akan menurun dengan adanya Jumantik. Harapan kita tahun 2019, kalaupun nanti musim wabah demam berdarah datang, masyarakat sudah siap. Kemudian jika ada gejala lanjutan langsung bisa diperiksakan kepihak kesehatan, agar kematian dan kecacatan akibat demam berdarah dapat ditanggulangi,” Tutur A. Fatoni. [Hend/Nin]






