close

OPINI

OPINI

Menyoal Kebijakan Negara Siapa Untung Siapa Rugi?

IMG_20200516_004101

Negara adalah organisasi atau badan tertinggi yang memiliki wewenang untuk mengatur setiap hal yang berhubungan dengan masyarakat dan berkewajiban untuk mensejahterakan, melindungi serta mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara di wilayahnya.

Sedangkan negara sebagai pengatur juga memiliki kewenangan dalam hal membuat kebijakan tentunya harus mengedepankan kepentingan kesejahteraan rakyat, fungsi itulah sebenarnya yang harus di terapkan kembali mengingat kondisi negara-negara dunia saat ini berada dalam keadaankritis yaitu dengan merebaknya wabah covid19 ( corona dease 19), setiap negara berlomba dalam hal membuat kebijakan untuk melindungi segenap bangsanya dalam hal memerangi wabah covid19 termasuk Indonesia, presiden negara republik Indonesia ir. joko Widodo kemudian mengeluarkan perpu no 1 tahun 2020 yang baru saja di sahkan menjadi undang-undang di tengah proses gugatannya kepada mahkamah konstitusi.

Setali dua uang di tengah carut marutnya kebijakan terkait dengan larangan mudik dan psbb di berbagai wilayah, pemerintah kembali membuat kebijakan yang tergolong membantu masyarakat yaitu dengan mengratiskan pembelian token/rek listrik dengan golongan tertentu hal ini cukup baik mengingat dalam kondisi covid19 seperti ini banyak warga negara yang di terpa kesulitan ekonomi mulai dari dirumahkan sampai dengan adanya pemutusan hubungan kerja (phk).

Di suatu sisi pemerintah banyak mengeluarkan kebijakan seperti bantuan langsung tunai dan bantuan sosial lain yang cukup membantu perekonomian masyarakat.

Namun ada satu langkah atau kebijakan yang seharusnya cukup perlu untuk di lakukan yaitu dengan menurunkan harga bahan bakar minyak (bbm), ditengah turunya harga minya dunia hal ini sangat krusial di bandingkan malah menaikkan iuran BPJS kesehatan apalagi di tengah kondisi covid19 seperti saat ini, masyarakat terbantu namun juga terbanting mengingat DPR RI kembali mengesahkan revisi UU minerba menjadi undang-undang juga di lakukan di tengah wabah covid19, seharusnya para elit penguasa dimulai dari eksekutif dan legislatif tidak berfikir kepada arah keuntungan negara dahulu akan tetapi seharusnya berfikir bagaimana menghilangkan wabah virus covid19 ini di indonesia.

Apalagi undang-undang minerba baru ini di nilai memiliki kontroversi yang hanya mementingkan investor di bandingkan dengan lingkungan yang berdampak dalam ekploitasi minerak dan batubara.
Masyarakat Indonesia di terpa berbagai kebijakan yang melalui aturan yang di suatu sisi ada yang menguntungkan rakyat disisi lain menguntungkan para elit dan penguasa, bagaimana tidak masyarakat di untungkan dengan kebijkan Gratis pembayaran listrik selama 3 bulan kemudian diberikan bantuan langsung tunai, dan bantuan sosial lain, namun di sisi lain masyarakat dihadapkan dengan kenaikan iuran BPJS kesehatan melalui perpres No. 64 tahun 2020 dan di sahkanya revisi UU minerba menjadi undang-undang. Artinya para elit penguasa baik eksekutif dan legislatif telah melakukan pengabaian (ommission) terhadap kesehatan masyarakat dan pengabaian (ommission) terhadap amanat Undang-undang dasar 1945 sebagai mana tertuang didalam pasal 33 ayat 3 bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Serta undang-undang No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan.

Namun pertanyaannya adalah siapa untung dan rugi ketika semua kebijakan di anggap membantu, semua kebijakan dianggap membantu yang pertama masyarakat secara umum dan yang kedua para elit dan penguasa khususnya tergantung dari sisi mana melihat dan menilai suatu kebijakan ini.

Bahkan perlu diingat bahwa salah satu fungsi negara adalah Mensejahterakan serta memakmurkan rakyat. Negara yang sukses dan maju adalah negara yang bisa membuat masyarakat bahagia secara umum dari sisi ekonomi dan sosial kemasyarakatan, beserta tegaknya keadilan bagi setiap orang yang hidup didalamnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Opini oleh Mohammad Mahmudi SH MH

Baca Selengkapnya
OPINI

Berperan Baik Dimanapun dan Kapanpun

IMG_20200421_152607

Hari Kartini diperingati setiap tahunnya oleh negara kita pada tanggal 21 April. Kebiasaan yang dilakukan dalam memperingatinya adalah melakukan kegiatan-kegiatan massal (karnaval, lomba-lomba busana Kartini, seminar tentang peran wanita, dan lain-lain) yang sepintas lalu ingin menunjukkan peran wanita dari berbagai profesi, dimana tersirat di dalamnya bahwa “wanita mampu setara dengan lelaki”.

Sungguh merupakan pemaknaan yang sempit, karena disamping pesan yang ingin disampaikan adalah keinginan kesetaraan, ada hal paradoks lain yang tersirat bahwa selama ini wanita berada dalam ketertindasan atau lebih halus bisa dikatakan bahwa wanita mengalami ketidakadilan yang terus menerus.

Terlepas dari semua itu, sejatinya wanita adalah mahluk multitalenta yang dalam kehidupan majemuk menjadi pelaku dan pelengkap tatanan. Berbagai organisasi kemasyarakatan tidak ada yang tanpa wanita, namun sebaliknya, ada banyak organisasi yang anggotanya hanya wanita. Ruang lingkup peran wanita sedemikian luas, baik dalam lingkup terkecil yaitu diri sendiri dan keluarga, maupun dalam lingkup luas seperti menjadi penentu kebijakan yang memenuhi hajat hidup orang banyak, menjadi pemilik usaha yang mempekerjakan banyak orang dan lain-lain. Kenyataan ini membuat wanita menjadi sosok yang mempunyai kekuatan tersendiri di berbagai tatanan kehidupan di dunia ini.

Saya yang kebetulan dianugerahi Allah SWT kesempatan untuk mengenyam pendidikan dokter, Hari Kartini tahun ini adalah tahun spesial karena bersamaan dengan Pandemi Covid-19. Sebagai tenaga medis wanita, kami (saya sebut kami, karena dalam melakukan pekerjaan selalu berkolaborasi) mempunyai tugas khusus yang sangat beresiko, baik berhadapan langsung dengan orang beresiko (kategori dari ODR/OTG, ODP, PDP bahkan mungkin kasus terkonfirmasi) maupun berjibaku dengan pemenuhan APD yang sangat langka adanya. Ini adalah ujian berat sekaligus ladang amal bagi kami sebagai bekal di kehidupan kami selanjutnya. Oleh karenanya, yang penting dilakukan sebelum menolong orang lain, maka kami harus melindungi diri sendiri dengan menggunakan APD standart di masing-masing level resiko, sehingga kami bisa menolong banyak orang dengan maksimal.

Dan selanjutnya, setelah menunaikan tugas di instistusi kesehatan, tak lupa bahwa seorang tenaga medis juga punya keluarga di rumah yang menunggu, kami harus pastikan bahwa kami bisa berkumpul kembali di rumah dalam kondisi aman dan nyaman, tanpa ada kekuatiran menularkan penyakit yang kami bawa dari kantor. Untuk itu budaya berPHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat yang salah satunya adalah kebiasaan cuci tangan pakai sabun, makan makanan dengan gizi seimbang, dan lain-lain), harus senantiasa mengakar dalam diri dan keluarga kami, agar senantiasa sehat sejahtera.

Selain itu, peran wanita dalam bermasyarakat tidaklah harus surut karena Pandemi Covid-19 ini. Saya kebetulan menjadi bagian dari IDI (Ikatan Dokter Indonesia) Cabang Sumenep, turut berkontribusi dalam penggalangan donasi pengadaan Alat Pelindung Diri (APD) untuk disalurkan pada 43 fasilitas kesehatan di Kabupaten Sumenep, masyarakat serta teman sejawat. Sedangkan di organisasi lainnya, saya kebetulan juga menjadi bagian dalam GOW (Gabungan Organisasi Wanita) Sumenep, turut bersama-sama berkontribusi memberikan sembako dan masker pada para perempuan tangguh (pedagang-pedagang kecil di pasar) yang terkena dampak Pandemi Covid-19, dengan tetap memegang teguh pencegahan Covid-19 yaitu pakai masker dan physical distancing (jaga jarak) selama berkegiatan.

Di sekitar saya, banyak sekali perempuan dengan perannya masing-masing, ada asisten rumah tangga yang begitu giat membantu saya untuk urusan dapur, ada guru ngaji dan wali kelas di sekolah anak saya yang berkontribusi penting dalam bekal ilmu anak saya, ada penjual cilok (kesukaan anak saya) yang kerap kali membuat bibir anak saya tersenyum, dan sejuta peran lain di sekitar kita yang selalu melakukan interaksi dengan kita. Selama kita bisa saling menghargai maka kita pasti akan senantiasa “berperan baik yang membaikkan”.

Harapan saya kepada seluruh perempuan yang ada di Indonesia, khususnya di Sumenep, mari kita jadikan Hari Kartini sebagai momentum berdaya-nya para perempuan, dengan segala kelebihan dan kelemahannya, kita harus mampu saling menjaga, saling melindungi, saling peduli dan saling memberi manfaat, bukan karena ingin setara dengan kaum lelaki, tapi makna yang lebih penting adalah menjadi sepenuh manfaat untuk diri dan sekitar kita. Mari, kita menjadi perempuan yang senantiasa “berperan baik dimanapun dan kapanpun”.

 

 

 

 

 

 

 

Happy Kartini’s Day
Best Regard

Rifmi Utami, dr., M

Baca Selengkapnya